Wal are thousands of people here in Avivonstrating against the war.

The police is forcing us out because they waron against the war.

Bukannya Iran, tapi Israelah yang diambang keruntuhan.

Sinyalnya mulai kelihatan di jalanan Tel Afif.

Bendera-bendera protes mulai bermunculan.

bukan lagi soal politik biasa, tapi tuntutan untuk mengakhiri perang dan menjatuhkan resim.

Dan yang paling mengejutkan, krisis ini bukan cuma soal politik, tapi sudah menyentuh jantung militer.

Kepala Staf IDF Eal Zamir secara terbuka mengakui kalau militer Israel sedang menghadapi krisis personil serius, kalimatnya tegas.

Jika tidak ada solusi, IDF bisa runtuh.

thumbnail

Ini bukan lagi sekadar tekanan dari luar, ini krisis dari dalam.

Di video ini kita akan bongkar semuanya dari gelombang protes, krisis internal sampai kemungkinan masa depan politik Israel.

Karena yang sedang terjadi sekarang bisa jadi titik balik paling menentukan dalam sejarah Israel.

Tekanan terhadap Israel justru dimulai dari dalam.

Di pertengahan Maret protes masih terlihat kecil.

Hanya ratusan orang yang berkumpul di luar kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Yerusalem.

Tuntutannya Netanyahu mundur.

Awalnya kondusif, terkontrol, tapi ini cuma permulaan.

Di dalam hitungan hari, amarah pun membesar.

Di Tel Afif, ribuan orang turun ke jalan.

Mereka bukan cuma menuntut diakhirinya perang di Iran, Lebanon, dan Gaza, tapi juga mengecam kebijakan kontroversial termasuk wacana hukuman mati bagi warga Palestina.

Ini jadi salah satu protes terbesar yang pernah terjadi sejak konflik memanas dan situasi mulai lepas kendali.

Bentrok antara polisi dan demonstran tak terhindarkan.

Bahkan militer IDF ikut dikerahkan untuk membantu mengendalikan situasi.

Masalahnya fokus mereka terpecah di luar bertempur di dalam menghadapi rakyatnya sendiri ini memperparah krisis personil yang sudah ada.

Untuk menutup kekurangan, Mahkamah Agung Israel sudah lama memutuskan bahwa pengecualian wajib militer bagi komunitas Yahudi Haredi tidak lagi berlaku.

Artinya mereka sekarang wajib masuk militer.

Surat panggilan mulai dikirim, pemeriksaan dijadwalkan, ancaman sanksi hukum pun disiapkan.

Tapi responnya keras.

Banyak dari komunitas ini turun ke jalan menolak kebijakan yang dianggap merusak identitas religius mereka.

Sebagian bahkan lebih memilih dihukum daripada meninggalkan studi agama.

Di sisi lain, penolakan juga muncul dari generasi muda.

Di Tel Afif, sekelompok pemuda membakar surat panggilan militer mereka di ruang publik.

Mereka dikenal sebagai Refusenix, menolak bergabung dengan IDF karena tidak ingin terlibat dalam operasi militer yang berdampak pada warga sipil.

Israel.

Kalau di jalanan muncul protes di level elit, krisisnya jauh lebih serius.

Di utara Israel situasinya mulai terbuka ke publik.

Walikota Margaliot, kota kecil di perbatasan Lebanon bahkan sampai menangis di televisi nasional.

Ia meluapkan kemarahan atas kehancuran kotanya.

akibat eskalasi dengan Hizbullah.

Tuduhannya jelas, pemerintah dan militer gagal melindungi warga.

Hal serupa pun datang dari Walikota Kiriat Semona.

Kota terbesar di utara itu kini hampir kosong.

Dalam rapat resmi, ia mengungkapkan kalau sebagian besar penduduk harus dievakuasi karena situasi yang tidak lagi aman.

Artinya, wilayah pembatasan mulai ditinggalkan.

Kritik juga datang dari level politik tertinggi.

Pemimpin oposisi Yair Lepit menuding pemerintahan Benjamin Tanyahu menjalankan perang tanpa arah yang jelas.

Dampaknya terasa langsung IDF, kekurangan personil, strategi tidak solid, dan tekanan terus meningkat.

Situasi makin panas ketika juru bicara Netanyahu, Zif Akmon mengundurkan diri.

Ini jadi sinyal kalau retakan juga terjadi di lingkar dalam kekuasaan.

Nah, yang lebih mengguncang pengakuan dari Rambak.

Bekas wakil direktur Mosat ini menyebut investasi besar MOSAT miliaran shackle gagal melemahkan Iran.

Pernyataan ini muncul memicu saling tuding dengan Netanyahu yang justru menyalahkan pimpinan intelijen.

Bahkan mantan Perdana Menteri Naftal Banat ikut angkat bicara.

Ia menilai Netanyahu kehilangan arah dan operasi militer di Gaza serta Lebanon tidak menghasilkan kemenangan nyata.

Akibatnya kepercayaan publik runtuh dan perlahan muncul fenomena yang lebih mengkhawatirkan.

Warga mulai meninggalkan Israel.

Di tengah konflik yang terus meluas dan belum menunjukkan tanda meredah, militer Israel justru menghadapi krisis paling mendasar, kekurangan personil.

Dan ini bukan sekadar spekulasi.

Ini peringatan langsung dari pimpinan tertinggi militer.

Kepala Staf IDF Eal Zamir secara terbuka mengakui kalau setelah lebih dari 900 hari operasi tanpa jeda, kondisi pasukan berada di titik kritis.

Bahkan ia memperingatkan, tanpa solusi cepat dan konkret, IDF bisa runtuh dari dalam.

Masalah utamanya adalah beban yang terus membengkak.

Pasukan cadangan kini dipaksa aktif di berbagai front sekaligus Gaza, Lebanon, Suriah, tepi barat hingga menghadapi potensi konflik langsung dengan Iran.

Artinya tidak ada ruang untuk istirahat, rotasi semakin sempit, kelelahan fisik meningkat, dan tekanan mental mulai menggerus kesiapan tempur.

Dalam kondisi seperti ini, efektivitas pasukan jelas menurun.

Tapi tekanan bukan cuma datang dari medan perang.

Pemerintahan Benjamin Tanyahu dinilai gagal membagi beban secara adil.

Polemik wajib militer bagi komunitas ultraortodoks terus berlanjut sementara kebutuhan personil semakin mendesak dan di saat yang sama eskalasi di tepi barat dan perluasan operasi militer justru menambah beban baru.

Bukan mengurangi tekanan tapi memperluasnya.

Laporan intelijen Rusia juga mengindikasikan kerugian signifikan termasuk perwira bagian intelijen hingga ribuan tentara.

Nah, jika ini mendekati kenyataan maka ini bukan lagi soal strategi, tapi soal daya tahan sistem militer itu sendiri.

Dan sekarang pertanyaannya, kalau mesin perang mulai kelelahan, berapa lama lagi bisa bertahan sebelum benar-benar runtuh? Mungkin bukan lawan di medan perang yang akan lebih dulu menjatuhkan Israel, tapi tekanan global yang terus membesar.

Dulu Israel dikenal memiliki dukungan kuat di panggung internasional, tapi sekarang arah angin mulai berubah.

Pemerintahan Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan dari berbagai sisi, bukan cuma militer, tapi juga hukum dan opini dunia.

Salah satu yang paling krusial adalah gugatan dugaan genosida.

di Mahkamah Internasional.

Kasus ini diajukan oleh Afrika Selatan pada akhir 2023 menuduh Israel melanggar konvensi Genanosida tahun 1948 dalam operasi militernya di Gaza.

Seiring waktu dukungan terhadap gugatan ini terus bertambah.

Spanyol, Turki, Irlandia sampai sejumlah negara Amerika Latin, Kini, Islandia, dan Belanda juga mulai ikut mengambil posisi.

Artinya, tekanan ini bukan lagi suara minoritas, tapi mulai jadi arus utama.

Di sisi lain, jurnalis Richard Angle mengungkapkan bahwa Israel bahkan menyeret Amerika Serikat lebih dalam ke dalam konflik ini.

Dan reaksi publik dunia meledak.

Di Paris, warga turun ke jalan mengecam perang.

Di Jepang, sekitar 24.

000 orang tetap berdemonstrasi meski diguyur hujan.

Di Inggris, ribuan orang mendesak penutupan kedutaan Israel.

Bahkan di Amerika Serikat sendiri, gelombang protes no kings tumpah ruah di negara bagian menentang kebijakan perang Donald Trump yang dinilai mendukung Israel.

Ini bukan lagi sekadar kritik biasa, ini adalah isolasi yang perlahan terbentuk.

Kalau tekanan terus datang dari luar dan dalam, pertanyaan besarnya sekarang, ke mana arah politik Israel? Situasi ini membuka beberapa skenario yang tidak mudah.

Skenario pertama, posisi Benjamin Netanyahu semakin terjepit.

Tekanan publik, kritik dari elit politik, dan krisis militer bisa memicu desakan pemilu dini atau bahkan pergantian kepemimpinan.

Dalam kondisi seperti ini, stabilitas politik Israel bisa goyah dari dalam.

Skenario kedua, justru sebaliknya, pemerintah bisa mengambil langkah lebih agresif.

Dalam sejarahnya, tekanan internal sering direspon dengan eskalasi eksternal untuk mengalihkan perhatian publik.

Artinya, konflik bisa semakin luas, bukan mereda.

Tapi apapun skenarionya, konsekuensi jangka panjangnya tidaklah ringan.

Pertama, kepercayaan publik terhadap pemerintah dan militer mulai tergerus.

Ketika perang tak kunjung menghasilkan kemenangan jelas, masyarakat mulai mempertanyakan arah dan tujuan strategi nasional.

Kedua, dampak ekonomi.

Perang berkepanjangan menguras anggaran negara, menekan investasi, dan mendorong gelombang eksodus warga.

Jika ini terus terjadi, Israel bisa menghadapi perlambatan ekonomi serius dalam jangka panjang.

Yang ketiga, posisi global Israel ikut berubah.

Isolasi internasional yang mulai terbentuk bisa berdampak pada hubungan diplomatik, kerja sama ekonomi, hingga dukungan militer dari sekutu.

Dan yang paling krusial, perubahan arah negara itu sendiri.

Apakah Israel akan tetap bertahan dengan pendekatan militeristik atau mulai dipaksa beralih ke jalur diplomasi? Di tengah semua ketidakpastian ini, satu hal jadi jelas.

Kris yang dihadapi Israel hari ini bukan cuma soal perang, tapi soal masa depan negaranya sendiri.